Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Sepercik Harapan Tanpa Sarapan
Solo, … 2000
Terpuruk aku di depan pintu
Menunggu ibu memasak tahu
Untukku yang dirindu
Tergeletak aku di depan pintu
Menunggu syahdu suara ibu
Memberitahuku tuk makan tahu
Terdengar merdu suara ibu
Lembut memberitahuku
Nak … tahunya gosong …
Sungguh tersiksa aku di depan pintu
Ini salahku tak mendengar kata ibu
Jangan remehkan sang waktu
Yang terus berlalu
Terbaring aku di depan pintu
Tiada daya, tiada rasa
Dunia [...]
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | 2 Komentar »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Anugerah Ilahi
Solo, … 2000
Di pagi nan hening
Termenung sendiri aku di gardu itu
Terboyong pekat rasa gelisah
Menahan beban derita, dengan …
Kernyitan mata,
Senyum sinis menampakkan pucuk seri
Serta cengkeraman kewibawaan tangan menguatkan
Segenap daya
Menepis derita tanpa kata
Hanya suara hati yang tertahan
Menimbun kepiluan
Mata semakin mengernyit,
Napas tertahan mengejang,
Perut mengeras menguat,
Tangan semakin keras mengepal,
Mencengkeram sesuatu tanpa ragu
Segala kemampuan terluapkan
Berakhir dengan …
Gemuruh dentuman meriam [...]
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Andai (solo, … 2000)
Andai bukan keinginanmu
Andai mengabaikan … aku mampu
Tentu … tentu … tentu …
Aku esakan cintaku
Aku penuhi dan jejali hatiku
Hingga tiada ruang pun tersisa kecualimu
Andai mata ini mampu ku borgol
Aku ingin ikat ke sendalku
Hingga tiada kan lari tawananku
Hingga tiadakan membidik, lalu membunuhku
Aku berharap semua hanya mimpi
Hidupku yang penuh luka ini hanya mimpi
Mimpi yang sangat [...]
DIarsipkan di bawah: curhat, puisi dan syair | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Aduhai Robb, ternyata selama ini Kau tahu semua pengkhianatanku pada Mu, bahkan sebetulnya Kau telah sering menyindirku.
Aduhai Robb ku, ampuni aku … maafkan kebodohanku. Mungkin aku tak patut mendapat perhatian dari Mu, bahkan kasih sayang Mu … karena sungguh aku telah mengkhianati cinta Mu.
Aduhai Robb ku yang dirindu, ampuni aku yang bebal dengan sindiran Mu [...]
DIarsipkan di bawah: curhat | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Biarlah Aku yang Jadi Korban
02.15, 13 Januari 2003
Biarlah kini aku yang terkorban
Asal orang tak tertimpa terulang
Biarlah aku yang sedu sedan
Asal jadi penanda jalan
Tiap malam mulai berjaga
Aku mimpikan gadis muda ceria
Gadis yang menggodaku bercanda
Hingga aku tersenyum gembira,
Sedang aku terkapar tanpa daya tanpa nyawa
Yang orang berduka, yang orang bangga
Semoga aku tertimpa dan lalu gembira
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Koboi Desa
Solo, … 2000
Nun jauh di tengah permadani hijau
Berkelakar syahdu
Dengan seruling bamboo
Di atas kendaraan nan lucu
Gemuk hitam menggerutu
Lenggok tariannya merayu
Mhoooo … suara sendu
Bertopikan selendang ibu
Di atas tunggangan itu
Duduk melamun bertopang dagu
Berbaju kulit menutup tubuh
Sarungnya terlambai terpa sang bayu
Sungguh merdu
Dendangan seruling bambu
Tak terelak
Tunggangan pun ikut berjoged melayu
Menyambut sang koboi desaku
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Kurcaci Reformasi
Solo,…2000
Besar kepalanya
Belang hidungnya
Panjang tangannya
Lidah penggosok sepatu bos
Sinis senyumnya mempesona
Rupa raksasa tampak Harjuna
Tubuh kerempeng nan tinggi semampir
Dihiasi tato porno penyelimut tubuh
Di perut buncitnya
Di lengan kanannya
Di jidat kepalanya
Bertopi biru gelap
Bertopeng superman
Berbaju hitam kelam
Berjoged riang
Di kegelapan malam
Katanya tobat
Katanya insaf
Duh Gusti …
Inikah reformasi ? …
Ataukah …
Inikah kurcaci reformasi ?
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | Leave a Comment »
Posted on 18 Juni 2008 by Sang Ksatria
Dua yang Terputus
(solo,..2000)
Dua pupus, harapan terputus
Dua itu adalah sumbu penerang dan kobaran
Kini sudah dua besar terhunus dan terputus
“Philip” ku bilang, sinarku mulai terhentak redup
dan kebenaran tertelan kabut kondisi
sumbu pun kini basah terlihat
bara pun semakin lembab terasa
Tetap ku tunggu yang tahu memberitahu
ada kehidupan di balik tirai fajar
ku terus susuri tapak seribu jalan dalam rimba gelap malam
meski [...]
DIarsipkan di bawah: puisi dan syair | Leave a Comment »