Oleh: Ksatriaku | 23 April 2007

Sang Bijak Pendiam

Hari ini Senin, 23 april 2007, lebih dari 8 bulan aku memendam rindu dengan teladanku Sang Bijak Pendiam, ayahku. Duhai ayah, bila kau tahu apa yang memulas dinding-dinding hatiku kini adalah rasa rinduku kepadamu. Hingga kini masih terdengar desis napasmu yang tersendat menghancurkan ketenangan hatiku, membedah ketentraman hidupku. Masih terasa dingin pipi ini saat ku sentuhkan dekat telingamu membisikkan kalimat talkin “laa ilaaha illalloh muhammadarrosululloh” mengantarkan kepergianmu.

8 bulan lebih lamanya tak lagi aku bercerita tentang kisahku tadi pagi, tak lagi aku memecahkan masalah dan mendiskusikan rencana esok hari. Kini teras rumah sore hari lengang, tanpa bahasan dan senyuman, tanpa eyelanku dan nasehatmu. Akuarium arwana megah muka teras pun kini tumbuh lumut dengan air yang tak lagi bening embun. Gemericik pancuran kolam ikan koki nan bersih jernih yang memanjang mengitari teras kita pun kini diam. Semua penghias tempat percakapan kita tiap sore dan petang kini semua lengang dan memburam lesu … kehilangan suara Sang Bijak Pendiam.

Hal yang belum juga ku temukan ujung pangkalnya adalah kelebihanmu. Banyak sanak kerabat dan teman karibmu yang terus saja kebingungan mencarimu, yah … hanya sekedar untuk segelas teh hangat dan ngobrol serta berbagi rasa. Ayah, aku heran kenapa kau banyak disenangi sahabat dan kerabat, padahal aku jarang sekali mengantarkan dan mengawalmu, meski hanya untuk mengucap sapa dan menengok rumah mereka. Aku tahu kondisimu yang kurang mendukung untukmu berkunjung kesana dan kemari, tapi aku yakin niat besarmu itulah yang mengantarkan kedekatan hati mereka ke teras kita. Mungkin itulah tanpa pergimu kau berkunjung dan banyak sahabat?

Duhai ayahku, sedang apa kau di sana? Bertemukah kau dengan lelaki garang, mungkin itu malaikat penanya amalmu ataukah kau selalu ditemani senyuman lembut wanita cantik, mungkin itu bidadari.

Ayah, ketahuilah bahwa anakmu sedang mulai berjuang berusaha. Ksatria dalam pingitan (Satrio piningit) bukan lagi legenda rakyat, tapi ksatria ingusan ini sedang membaur dengan rakyat. Hak kaum lemah harus dibela, keangkuhan harus diluruskan, kebenaran harus ditegakkan sempurna.

Ayah, anakmu yang masih saja kurang berbakti ini sedang berdoa agar Alloh menetapkan konsistensiku mendoakanmu setiap waktu. Tunggu Ayah, aku akan menyusulmu insya-alloh disaat telah tiba masa menjemputku, semoga tanggungjawabku saat itu sempurna terlaksana dan telah siap menemui-Nya.


Responses

  1. Salam Kasih & Damai.
    Sudah menjadi suatu kewajaran bahwa setiap Anak manusia mempunyai suatu keinginan, karena dengan adanya keinginan dapat memotivasi seseorang u/ berusaha mencapainya, terlebih lagi suatu keinginan u/ berbuat baik kepada semua makhluk, sungguh mulialah orang tersebut. Mudah2an Gusti kan selalu memberikan kepada kita kesempatan, u/ selalu menebarkan cinta & kasih sayang kepada para makhluknya yang lain. Walaupun jika pada akhirnya nanti kita tidak mendapatkan nama baik, sanjungan, pujian atau segala hal yang berbentuk materil dan non materil, karena itu bukanlah yang menjadi tujuan utama penyebar kebaikan & cinta kasih Gusti. Setidaknya kita sudah BERBUAT dan semaksimal mungkin apa yang bisa kita perbuat.Ikhlaskanlah segala perbuatan kebaikan yang telah diperbuat, serahkanlah semuanya kepada Gusti. Karena Dia-lah Yang Maha Adil,Bijaksana, Pengasih dan Maha Penyayang. “””TANAMLAH BENIH-BENIH KEBAIKAN SELAMA HIDUPMU DAN LUPAKANLAH APA YANG KAU TANAM SELAMA HIDUPMU PULA”””. Salam Kasih & Damai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: