Oleh: Ksatriaku | 30 Juli 2007

Di Lubang Septitank WC Umum yang Belum Dibangun

Di Lubang Septitank WC Umum yang Belum Dibangun

27 Juli 2007

Di tengah orang berlari dari amukan cemeti matahari,
terdengar isak kecil yang tertahan pedih.
Hilir orang berganti, mudik orang berlari
Isak itu tak hilang, tapi terabaikan

Wahai angin antarkan aku
kepada ratapan yang memecahkan kristal-kristal

Hilang dari pandang, tapi suara itu …
dari tengah galian WC umum yang belum dibangun
Ia mengalun tak terhenti

Ini!!! Bocah kecil yang menangis tidur terisak
Memeluk lutut, mendekap buku kecil

Wahai Adik, derita apakah gerangan yang kau rasa?
Paman, aku sebatang dahan tanpa daun dan batang,
Tapi bukan itu yang membuatku menangis
Paman, memang perutku melilit pedih menahan lapar,
Tapi bukan itu yang membuatku menangis

Lihatlah!
Halaman pertama bukuku terobek
Rp 250,- setoran kurang, Bang Kribo mengamuk
Iya … kubelikan buku IQRO jilid satu di paman ujung jalan penjual loakan

Aku ingin seperti teman-teman kampung lainnya itu
Tapi sekarang lihatlah, lembar bukuku tak lagi genap sempurna

Apakah Alloh melarang orang miskin belajar, Paman?

Kuseka air mata yang mulai mengalir
dengan sapu tangan sutra dari kantung kemeja,
lalu kukatakan lirih
Wahai Adik, ceritamu telah merobek hatiku, maka terimalah usulan dan pemberianku.
Lalu kau takkan lagi tersengat matahari dibawah atap mobil yang ber AC
Dan kau takkan lagi terluka berbaring di dipan busa yang berpegas lembut

Terimakasih, Paman …
Tapi akankah kujual deritaku dengan derita lain yang hilang rasa?

Bila Paman peduli denganku dan sepertiku,
Ketahuilah Paman, yang kami butuhkan untuk menyeka bengkak derita ini
adalah perhatian dan kasih sayang
bukan nyaman, senang dan kemewahan

Sekarang lebih baik pulang dan temuilah kembali teman-teman Paman
Lubang ini akan menjadi kamar hangat untukku
Pipa pralon ini akan menyangga kepalaku hingga terlelap tidurku
Dan sisa robekan bukuku ini akan setia menemani dan menjadi sahabat bermainku

Duhai Adik, jika kau tolak pemberianku untuk menjadi anakku,
Maka jangan kau tolak pinta dan pohonku
Agar menjadi tenang kembali hidupku
Aku mohon, jadikan aku ayahmu …
atau aku akan tinggal bersamamu dan sepertimu di sini.


Responses

  1. Assalamu’alaikum wr wb

    WAh ternyata bakat jadi penyair
    padahal orangnya celelekan banget

    Tapi ga pa2 ko
    celelekan kan bukan berarti ga bisa puitis
    hehehehhehehe
    afwan just kidding

    Pokoknya terus berjuang aja

    Wassalamu’alaikum wr wb

  2. wa’alaikumussalam,
    waa … jadi malu. puisi cuma iseng doang kok …
    terimakasih

  3. pak,,tidak kusangka kaw punya pribadi yang laen,,hehehe..salut!

  4. ternyata rupa tidak mencerminkan rasa
    we’e’e’e’e’e

  5. lha….

    iki lg bermutu…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: