Oleh: Ksatriaku | 31 Juli 2013

I’tikaf Tahun Ini Aneh

i'tikaf 1423

i’tikaf 1423

Sepi, aneh, bingung…

Barangkali kisaran kesan itu yang muncul di kesepuluh malam Ramadhan 1423 tahun ini..

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. I’tikaf selama ini saya mengikuti benar-benar merasa nyaman. Tapi kali ini cukup drastis berbeda.

Kali ini harus lebih mandiri. Karena di masjid tempat i’tikaf kali ini tidak ada panitia penyelenggara yang biasa kita tinggal bayar biaya pendaftaran.. Selesai, tanpa harus ribet memikirkan berbagai macamnya sendiri. Makan sahur dan buka.. harus pulang dulu sejenak.

Dan lebih terasa beratnya adalah.. kali ini harus berkelakar dengan sepi, karena di masjid tempat i’tikaf kali ini tidak ada peserta i’tikaf (mu’takif) di siang hari, hanya ada di malam hari.

Ya, saya kali ini benar-benar tertantang untuk menyelesaikan tantangan kesendirian ini. Tidak mudah memang. Meskipun di tahun-tahun sebelumnya pun i’tikaf juga berlangsung “individualis”, mengurangi interaksi dengan manusia dan dunia. Tp entah kenapa.. Berada sendiri dalam keadaan sebenarnya ini rasanya benar-benar beda.

Pada awalnya memang cukup membuat shock juga. Saya manusia yang hampir tak pernah sendiri, lalu tiba-tiba berada pada kesunyian siang.. Itu sesuatu🙂. Baru merasakan, berada diantara kesibukan manusia itu ternyata menenangkan juga yah🙂.

Di hari kedua ini, subhanallah. Allah membukakan pintu kesadaranku. Barangkali ini sebuah ajang penggemblengan mental.

Menjadi pengusaha itu pada hakekatnya adalah “sendirian”. Berbeda dengan pegawai atau karyawan, mereka bisa saling curhat dan saling sokong. Lha kalau pengusaha? Kepada siapa harus curhat dan minta pertolongan, kecuali hanya kepada Allah saja.
Pengusaha lah yg bertanggungjawab sepenuhnya atas perusahaannya, tidak bisa melempar tanggung jawab, excuse, beralasan atau lari dari masalah.. Kecuali kalau memang berniat “mati”. Dan matinya satu pengusaha juga berarti matinya satu atau ribuan karyawan di bawahnya.

Demikian pula “kesuksesan”. Seperti pendakian gunung yang berhasil. Semakin ke puncak, semakin sedikit orang yang ada disana. Dan berada di puncak kesuksesan itu juga berarti sendirian, sepi… Banyak yang mendekat, tapi palsu dan penuh tendensi. Ini konsekuensi, bukan masalah negatif atau positif.

Belum lagi nanti saat di kubur pun kita sendiri.. Sepi. Kita lah yang mempertanggungjawabkan semua amal kita… Sendirian. Tidak ada lagi sesiapapun yang bisa membantu.

Jadi, alhamdulillah.. Kini saya bisa semakin semangat dan bersyukur. Harus bisa melewati tantangan demi tantangan ini dengan keyakinan akan kesuksesan! InsyaAllah biidznillah..

Kamu juga berSEMANGAT kan?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: